Miris, Asmawati Hidup di Gubug Reyot

Asmawati (45), warga Kampung Cigaluh RT 03 RW 05 Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut, selama ini tinggal di rumah panggung yang nyaris ambruk bersama suaminya bernama Burhanundin (60) serta empat anaknya tinggal di gubuk reyot berukuran 4×6 meter yang terbuat dari bilik usang. Beralaskan lantai yang terbuat dari kayu sudah rapuh dan atap rumah bocor.

Garut, harianpelita.co – Meski Pemerintah Kabupaten Garut menambah program rumah tidak layak huni (rutilahu) melalui bantuan dari Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019 ini. Namun program tersebut dinilai belum sepenuhya diketahui masyarakat yang ada di desa.

Program Lafad Rutilahu yang dicanangkan Wakil Bupati Garut, Helmy Budiman yang digadang-gadangkan bisa menurunkan tingkat kemiskinan terutama target berkurangnya rumah kumuh di tiap desa belum terasa dinikmati oleh masyarakat.

Seperti yang dialami Asmawati (45), warga Kampung Cigaluh RT 03 RW 05 Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut, yang selama ini tinggal di rumah panggung yang nyaris ambruk. Ibu paruh baya ini tinggal bersama suaminya bernama Burhanundin (60) serta empat anaknya tinggal di gubuk reyot berukuran 4×6 meter yang terbuat dari bilik usang. Beralaskan lantai yang terbuat dari kayu sudah rapuh dan atap rumah bocor.

Mereka mengaku cemas karena sewaktu-waktu bangunan tersebut bisa ambruk sehingga membahayakan keselamatan. Plafon kayu yang sudah rapuh akibat sering kebocoran dan termakan usia. Faktor kemiskinan dan bekerja sendiri sebagai sebagai buruh tani, Asmawati hanya bisa menutup kebutuhan makan untuk sehari-sehari.

Sedangkan suaminya, Burhanudin sejak tahun 2011 yang lalu mengalami sakit stroke, sebelumnya menjabat Ketua RT 03 RW 05 selama 20 tahun. Tapi sejak sakit jabatan tersebut diteruskan orang lain. Sehingga dirinya tak mampu untuk memperbaiki gubuk reyot yang selama ini ditempatinya.

”Uang dari mana untuk memperbaiki rumah saya. Kalau bocor, ya saya tambal dengan bahan seadanya, tambalin-tambalin saja. Keadaan suami saya hanya bisa duduk dan tergolek di tempat tidur, anak saya yang pertama kerjanya juga kuli bangunan, paling untuk makan sehari-hari,”ucapnya bernada lirih, Minggu (19/5/2019).

Baca juga :   Bupati Garut Temu Pisah Komisioner KPU

Asmawati menambahkan, sejak suaminya sakit, dua anaknya tidak bisa melanjutkan sekolah. “Hanya yang bungsu kelas enam SD, sedangkan dua anak saya seusia SMP kini putus sekolah tidak ada biaya,” katanya.

Dirinya mengaku, pihak kepala desa maupun pemerintahan desa setempat tidak pernah peduli terhadap nasib warganya. “Kepala Desa Mekarsari, sama sekali tidak peduli, jangankan membantu, menengok ke sini aja belum pernah,” tegasnya. (yoes)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan