Pemkab Ancam Cabut Izin Hotel sebagai Tempat Prostitusi Online

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna saat gelar perkara prostitusi online di Garut.

Garut, harianpelita.co – Pemerintah Kabupaten Garut mengancam akan mencabut izin usaha hotel jika terbukti adanya pihak pengelola yang menyalahgunakan hotel menjadi tempat prostitusi.

“Itu bisa dicabut izinnya setelah diberikan peringatan,” kata Wakil Bupati Garut Helmi Budiman terkait upaya pemberantasan prostitusi daring yang memanfaatkan fasilitas hotel di Garut, Selasa (28/5/2019).

Helmy menuturkan, Pemkab Garut telah berupaya memberantas dan mengantisipasi segala praktik prostitusi untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Berbagai upaya yang sudah dilakukan, yaitu menggiatkan razia dan pembinaan terhadap hotel untuk tidak menyalahgunakan hotel sebagai tempat prostitusi.

“Kita biasa melaksanakan terhadap razia malam hari, terutama pada Ramadan lebih intensif lagi agar tidak terjadi praktik prostitusi,” kata politisi PKS itu.

Sebelumnya, tim Patroli Siber Polres Garut berhasil mengungkap praktik prostitusi daring di Hotel Candra Kirana kawasan wisata Cipanas Garut, Jumat (23/5/2019) malam dengan tersangka dua orang sebagai muncikari dan kurir.

Bahkan dua muncikari berinisial TA (44) dan SA (18) telah ditetapkan sebagai tersangka kasus prostitusi online. Keduanya terbukti menjual anak perempuan kepada lelaki hidung belang.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan praktik prostitusi itu dilakukan tersangka menggunakan aplikasi Michat dengan cara menawarkan kepada laki-laki dalam media sosial tersebut. Setelah ada kesepakatan, laki-laki tersebut diminta datang ke hotel, selanjutnya di dalam hotel itu sudah ada muncikari dan beberapa wanita yang siap melayani pria yang menjadi konsumennya.

Kapolres AKBP Budi Satria Wiguna menyebutkan, TA rupanya juga ikut menjual anaknya dengan dasar permasalahan ekonomi yang dihadapi. “Berdasarkan pengakuan yang bersangkutan (TA), ya memang benar (menjual anaknya kepada lelaki hidung belang). Pengakuannya karena butuh sesuatu. Jadi kegiatan prostitusi online ini sendiri memang tujuannya untuk mencari keuntungan,” tandasnya.

Baca juga :   Operasi Patuh Candi 2019 di Brebes 14 Hari ke Depan

Akibat perbuatannya itu, ujar Budi, kedua tersangka dijerat Pasal 296 junto pasal 506 untuk muncikarinya dan Undang-undang perlindungan anak karena ada dua orang wanita yang masih di bawah umur, kemudian dijerat UU ITE Pasal 45 junto 28 dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara. (yoes)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan