2.756 Hektar Sawah Dilanda Kekeringan, Petani Kehilangan Penghasilan Puluhan Milyar

Kekeringan tanaman padi milik petani terjadi di salah satu desa Kecamatan Banyuresmi, Garut.

Garut, HarianPelita.co – Sedikitnya 2.756 hektar lahan sawah yang tersebar di 270 desa di 40 kecamatan di wilayah Kabupaten Garut dilanda kekeringan akibat kemarau panjang yang terjadi selama ini. Bahkan, ratusan hektar tanaman padi terancam fuso atau gagal panen.

Akibat lain, para petani di Kabupaten Garut terpaksa kehilangan penghasilan mencapai sekitar Rp.70.896.721.775 dari produksi padi 12.890.313 kilogram Gabah Kering Giling’ (GKG) atau setara 9.023.219 kilogram beras.

Berdasarkan data pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat, terhitung 15 Agustus 2019, sebanyak 440.960 penduduk sebagai petani di Kabupaten Garut kehilangan penghasilan mencapai Rp70.896.721.775, karena kehilangan produksi 12.890.313 kilogram ‘Gabah Kering Giling’ (GKG) atau setara 9.023.219 kilogram beras.

“Besarnya kerugian yang dialami petani itu, akibat kemarau panjang yang meranggas 2.756 hektare tanaman padi sawah tersebar pada 276 desa di 40 wilayah kecamatan. Hanya Kecamatan Bayongbong dan Cigedug masih bebas kekeringan, meski di Bayongbong ada empat hektare terancam serta 14 hektare di Cigedug,” kata Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT)  Kabupaten Garut, Syarifudin didampingi stafnya Ahmad Firdaus. Selasa (20/8/2019).

Syarifudin dan Ahmad Firdaus menjelaskan kekeringan akibat kemarau panjang tak anya melanda lahan tanaman padi namun juga menerjang komoditas bawang merah, cabai, jagung, dan kedelai.

Dirinya menyebutkan terdapat 20 hektare tanaman bawang merah dilanda kekeringan terjadi di Desa Tenjonagara Sucinaraja, masing-masing menyebabkan 10 hektare rusak berat, dan sedang. Sedangkan, tiga desa di Kecamatan Cisurupan, ada 13 hektar tanaman cabai rusak ringan diranggas kekeringan.

Sementara, sekitar 1.567 hektare tanaman jagung tersebar pada 53 desa di 11 kecamatan mengalami kekeringan bahkan 1.113 hektar di antaranya gagal panen. Sekitar 123 hektar rusak berat, 285 hektar rusak sedang, serta 46 hektare rusak ringan, terancam 429 hektar.

Baca juga :   Peningkatan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Capai Indonesia Sehat

Kekeringan pada tanaman kedelai seluas 313 hektar tersebar di 14 desa di dua kecamatan, 312 hektar di antaranya gagal panen. Satu hektar rusak ringan, dan terancam satu hektar. “Pihaknya terus melakukan upaya penanganan kekeringan tanaman padi sawah selama ini, dengan menyelenggarakan gilir giling,” tandasnya.

Senada diungkapkan Kepala Seksi Serelia Dinas Pertanian Garut, Endang Junaedi. Menurutnya, dari 2.756 hektar tersebut yang mengalami kekeringan terdiri dari 1.469 hektar di antaranya puso atau gagal panen berkehilangan produksi 8.697.949 kilogram GKG setara 6.088.564 kg beras bernilai Rp.47.838.719.500.

Kemudian, ujar Endang, sekitar 423 hektar rusak berat kehilangan produksinya 2.128.896 kilogram GKG setara 1.490.227 kg beras bernilai Rp11.708.925.525 dengan asumsi setiap kilogram seharga Rp.5.500. Disusul, 530 hektare rusak sedang kehilangan produksi 1.569.065 kilogram GKG setara 1.098.345 kg beras bernilai Rp 8.629.857.500. Serta 334 hektar rusak ringan kehilangan produksi 494.404 kilogram GKG setara 346.082 kg beras bernilai Rp 2.719.219.250.

Endang menuturkan, kekeringan yang meranggas 2.756 hektare tanaman padi sawah tersebut milik 110.240 kepala keluarga (KK) petani dengan asumsi setiap hektar dimiliki 40 petani termasuk didominasi petani gurem.

“Mereka menghidupi 440.960 anggota keluarga dengan asumsi setiap Kepala keluarga (KK) petani memiliki empat anggota keluarga, yang kini berkondisi kehilangan penghasilan. Belum lagi, diperparah yang terancam kekeringan mencapai 3.006 hektare,” kata Endang. (yoes)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan