Preman dan Bamsoet

KETUA MPR RI Bambang Prasetyo.(Bamsoet) tiba-tiba mengeluarkan kata; Preman. Dan itu dikatakan melalui sebuah televisi swasta di mana hostnya membacakan pernyataannya; “akan menjelma jadi preman yang buas tak pandang bulu, jika ada pihak mengganggu NKRI dan Presiden Joko Widodo”.

Sekilas orang mendengar dan membacanya mungkin biasa saja, tapi bagaimana anda bisa menjelma melalui pemimpin pemuda?

Pernyataan itu seakan melegitimasi bahwa ada kelompok preman yang buas dan tak pandang bulu demi NKRI dan Presiden RI.

Dua hal yang berbeda Pak, membela negara adalah kewajiban sekaligus hak setiap warga negara. Tapi membela sosok Presiden, tidak simetris dengan membela negara.

Presiden bisa saja salah arah dalam kebijakan pemerintahannya, saya hanya ingatkan, jika mencinta sesuatu, jangan melampaui batas. Sebab, suatu ketika akan berubah jadi benci.

Sebaliknya, jika tak menyenangi sesuatu jangan juga melampaui batas, karena boleh jadi akan berubah jadi kesenangan. Sebagai pejabat negara di posisi jabatan publik lembaga “tinggi negara” maka sebaiknya, pikirkan dengan matang, pilih dengan cermat, diksi yang akan dituturkan.

Jujur saja pernyataan itu justeru mendegradasi wibawa seorang Kepala Negara. Memang benar, Jokowi itu Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, tapi dia bukan malaikat yang tanpa cacat, dia manusia biasa.

Maka, menghormatinya dengan terukur, menyanjungnya juga dengan terukur, sebab jabatannya hanya 5x365hari, setelah itu, kita tidak tahu apa uang akan terjadi. Ikhtiar adalah wajib, hasil akhir adalah putusan dan ketetapan ilahi.

Jika saya kepala negara, maka saya akan panggil anda dan bicara baik-baik apa maksudnya mengeluarkan pernyataan seperti itu, sadarkah akan dampak dari sebuah pernyataan kan menjelma jadi preman yang buas dan siap menerkam siapa saja yang menggganggu NKRi?

Baca juga :   Ketika Makna Kemanusiaan Terabaikan

Tanpa eksplisit sebuiah tekad, diminta atau tidak, jika habitasi bangsa terusik, maka tanggungjawab semua pihak akan turun bahu memahu membela kebenaran. Bukan membela personal.

Kita mengkritisi pemerintahan Jokowi, bukan personal Jokowi, maka hati-hatilah sahabat, menuturkan sesuatu, sebab kuadran yang anda tempati, bukan di Perbakin, bukan lagi di kewartawanan atau di dunia usaha, tapi di lembaga negara yang tinggi,

Maka aturlah tutur kata,. sebab, dari mulut bisa badan jadi binasa. Selamat beralhir pekan, pikirkan 265 juta orang di NKRI akan gelisah dengan tuturan akan menjelma jadi “preman buas” itu. Inggatlah di atas langit masih ada langit, justeru yang diharapkan dari anda bagaimana MPR menggugah rakyat agar bersemangat memberikan partisipasinya membangun negeri sesuai porsinya. (****)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan