Merefleksikan Filsafat Politik Ala Ibn Rusyd

Mencari rujukan filsafat politik dalam literatur Islam klasik sungguh menarik. Salah satu tokoh yang banyak membahas masalah ini adalah Ibn Rusyd. Di kalangan masyarakat Muslim, sosok Ibn Rusyd tampaknya sudah biasa terdengar sebagai jawara yang mencitrakan tradisi pemikiran Islam rasional, kritis, dan demonstratif. Dalam buku Republic Plato ala Ibn Rusyd yang diterbitkan Penerbit Sadra Press (2016) ini, tertuang banyak gagasan filsafat politik ibn Rusyd yang tak sekadar mendeskripsikan ide-ide Plato, namun mereflesikannya pada tataran praktis. Di tangan Ibn Rusyd, filsafat politik tidak lagi terkesan menjadi ide-ide yang melangit.

Tentu ini membantu peminat filsafat dan juga politik untuk dapat melihat pandangan-pandangan Ibn Rusyd agar dapat direflesikan pada kehidupan perpolitikan saat ini. Karena apa yang digambarkan Ibn Rusyd dalam buku setebal 477 halaman ini memberikan inspirasi dan spirit yang siap membetot perhatian dalam menyingkapi persoalan politik kotemporer, terutama politik yang tengah terjadi di negeri kita. Buku ini juga menantang keberanian dan kemampuan kita untuk mengkritik sistem kekuasaanyang terjadi saat ini. Buku ini menjadi warisan yang berharga yang akan memberi suatu kesaksian bagi para pembacanya bahwa dalam tradisi intelektual Islam telah mewacanakan persoalan kehidupan bernegara sejak lama.

Ibn Rusyd sering mengungkapkannya dengan ungkapan: ”Dalam pemerintahan kota kita yang terjadi saat ini”. Ungkapan ini menggambarkan pemerintahan yang diktator pada masanya, Ibn Rusyd membuat suatu istilah orinisil terhadap kondisi pemerintahan pada masanya dengan istilah”Wahdaniyyah al-Tasalluth” atau kekuasaan egoistis, sebagai aplikasi dari padanan kata tirani yang berasal dari Yunani. Sehingga saat membaca buku ini, pembaca seakan diberi sebuah kesadaran untuk melihat persoalan-persoalan kekinian kenegaraan sedang berlangsung.

Baca juga :   Membaca Sosok Ilham Bintang Dari Tulisannya

Bagi sarjana Muslim di tanah air, pemikiran-pemikiran Ibny Rusyd sepertinya tidak mendapatkan perhatian yang serius. Banyak salah pengertian dalam melihat sosok ini, diantaranya Ibn Rusyd acap dianggap sosok yang “mendewakan” Aristoteles, sosok yang meyakini “dualisme kebenaran” atau kebenaran ganda dan kekalan akal materialis (intelectus materialis), atau sebaliknya sosok yang berupaya melanjutkan usaha keras para filosof sebelumnya tentang problematika ”harmonisasi antara agama dan filsafat”, sosok yang mengamentari karya-karya Aristoteles dengan kerangka acuan Neo-Platonis, dan anggapan-anggapan lainnya. Gambaran-gambaran ini, menurut Muhammad Abed al-Jabiri, penulis pengantar buku ini, harus segera dibatalkan, mengingat Ibn Rusyd tidaklah seperti yang dituduhkan.

Abed al-Jabiri memandang buku ini merupakan karya yang akan melahirkan pemberontakan sekaligus revolusi, yang tidak saja pada level pengetahuan pembaca tradisi intelektual yang awam,namun juga pada kalangan pemerhati dan pengkaji yang concern terhadap studi pemikiran Ibn Rusydian. Buku ini juga merupakan salah satu karya dari ”proyek revisi karya–karya autentik Ibn Rusyd” dan buku seri tradisi filsafat Arab-Islam, yang diterjemahkan secara langsung dari bahasa Ibrani yang pernah dilakukan oleh E.I.J.Rosenthal,1956,dan diterbitkan oleh Markaz Dirasat al-Wahdah al-Arabiyyah.

Di masa awal aktivitas keilmuannya, Ibn Rusyd sempat merilis karya yang bertajuk:”Al-Dharuri fi Ushul al-fiqh:Mukhtashar Kitab al-Mustasyfa” (kebutuhan Mengenal Ushul-fikih:Abstraksi Karya al- Mustasyfa Ghazali) dan kini, tidak sedikit peneliti pemikiran Ibn Rusydian meyakini bahwa beberapa tahun sebelum meninggal dunia, Ibn Rusyd sempat merilis karya”Al-Dharuri fi al-Siyasah: Mukhtashar Kitab al-Siyasah li Aflathun” (Kebutuhan Berpolitik :Abstraksi Karya Republik Plato-karya yang terjemahannya sedang anda baca ini).

Sayangnya, teks asli karya yang terakhir disebut tidak mendapat perhatian yang layak-untuk tidak mengatakan dianiaya, sehinga banyak kalangan menyatakan bahwa karya tersebut telah hilang dari peredaran. Ada indikasi bahwa hilangnya teks asli dari karya tersebut karena terbakar ketika Ibn Rusyd harus menjalani hukuman pengasingan,yang dikenal dalam beberapa literatur sejarah Islam sebagai “Masa Tragedi Ibn Rusyd “.

Baca juga :   Tentang Buku Terbaru Ilham Bintang “Surat-Surat Wasiat Mendiang Nana”

Buku “al –Dharuri fi al-Siyasah” pada intinya mengandung dua pengertian yang dapat ditangkap. Pertama, kebutuhan dalam membangun praktek politik berdasarkan pengetahuan ilmiah. Kedua kebutuhan membaca dan mengetahui karya politik Plato, yang dikenal dengan The Republic (dalam Bahasa Arab sering diungkapkan dengan Muhawawal al-Jumhuriyyah”), yang merupakan buku klasik yang selalu dibaca orang sepanjang masa. Buku tersebut menyuarakan kerinduan manusia akan keadilan sekaligus memuaskan kebutuhan intelektual.

Buku “al Dharuri fi al Siyasah” atau Republik Plato ala Ibny Rusyd ini tidak hanya meresume “pernyataan-pernyataan ilmiah yang signifikan” dalam Republic Plato. Ibn Rusyd menambahkan persoalan-persoalan teoritis dan metode pada pernyataan-pernyataan Plato, dan menuangkan gagasan-gagasan serta analisis-analisisnyayang menyangkut ranah peradaban Islam secara umum, dan realitas bangsa (Andalusia) dan zamannya secara khusus. Sehingga, hampir sepertiga dari buku al Daruri al Siyasah merupakan gagasan yang dituangkan melalui buah goresan pena Ibn Rusyd sendiri.

Pengantar Muhammad Abid al-Jabiri dalam buku ini memberikan pemahaman pada pembaca bagaimana kita memosisikan teks Ibn Rusyd pada konteks perkembangan pemikiran politik dalam tradisi Islam, dan mengidentifikasi tema dan hubungan, serta sejarah penulisannya. Sehingga kita dapat menikmat khazanah intelektual ini pada ruang yang kita dapat menjadikan refleksi melihat kehidupan bernegara saat ini. (Rudhy) *Penerbit yang ingin bukunya diulas silakan kontak via email: redaksi@harianpelita.co




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan