Fahmi Tamami Lahir untuk Meredam Radikalisme Agama

Jakarta, HarianPelita.co – Organisasi Fahmi Tamami dibentuk dan diresmikan oleh H. Rhoma Irama pada Sabtu, 10 Ramadhan 1428 H bertepatan dengan tanggal 22 September 2007 M bertempat di Masjid Husnul Khotimah, Jalan Pondok Jaya No35 Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Kehadiran Fahmi Tamami ini membawa optimisme dan harapan baru bagi masyarakat dalam menekan potensi radikalisme dan kekerasan yang bernuansa agama.

Fahmi Tamami, menurut H. Rhoma Irama, muncul karena adanya keresahan atas upaya pengambilalihan masjid oleh kelompok Islam radikal.

Modusnya, kalau ada masjid yang tidak memiliki unsur organisasi dengan jelas, perwakilan Islam radikal itu akan mengontrak rumah di sekitar masjid. Lantas, mereka menawarkan diri untuk menjadi pengurus masjid, guru mengaji, serta pendakwah. Perlahan tapi pasti, akhirnya mereka mulai (berani) mengafirkan, memfitnah, dan membid’ahkan ajaran dan tokoh-tokoh Islam yang menjadi panutan masyarakat sekitar.

Berangkat dari keprihatinan itulah, KH. Rhoma Irama berinisiatif membentuk organisasi Fahmi Tamami didukung Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua PBNU Hasyim Muzadi, Dr. Tarmizi Taher yang saat itu Ketua DMI, dan didukung Dr. KH. Zainudin MZ, dan Dr. Habib Muhammad Rizieq Shihab, serta di dukung alim ulama habaib lainnya.

Dengan harapan mampu menyelamatkan masjid dan mushala dari (pengaruh) gerakan Islam radikal. Dengan demikian, masjid dan mushala tidak lagi menjadi basis dalam memupuk ajaran-ajaran agama yang beringas.

Fungsi Masjid

Pada masa Nabi Muhammad SAW, masjid merupakan pusat pengembangan masyarakat dan kegiatan dakwah. Sejarah mencatat, salah satu langkah strategis dan yang pertama dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat madani di Madinah adalah mendirikan masjid.

Masjid memiliki fungsi penting dalam kehidupan sosial. Meski fungsi paling utama sebagai tempat melaksanakan ibadah shalat berjamaah, masjid juga bisa dipergunakan untuk kepentingan sosial.

Baca juga :   Baznas: Membayar Zakat Harus Dijadikan Kebutuhan

Masjid berperan dalam mengoordinasi mereka guna menyatukan potensi dan kepemimpinan umat. Masjid merupakan jantung kehidupan umat Islam yang selalu berdenyut untuk menyebarluaskan dakwah Islam. Di masjid pula direncanakan, diorganisasi, dikaji, dilaksanakan, dan dikembangkan dakwah dan kebudayaan Islam yang menyahuti kebutuhan masyarakat. Karena itu, masjid berperan sebagai sentra aktivitas dakwah, sosial, dan kebudayaan.

Dalam perjalanan sejarahnya, masjid mengalami perkembangan yang pesat, baik dalam bentuk bangunan maupun fungsi dan perannya. Hampir dapat dikatakan, di mana ada komunitas Muslim di situ ada masjid. Umat Islam seolah tidak bisa terlepas dari masjid. Di samping menjadi tempat beribadah, masjid menjadi sarana berkumpul, menuntut ilmu, bertukar pengalaman, pusat dakwah dan sebagainya.

Sebagai pusat dakwah, masjid juga merupakan media yang cukup ampuh untuk membendung terjadinya arus radikalisme agama. Masjid bisa menjadi sarana yang cukup efektif dalam menyemai dan memupuk ajaran Islam yang moderat dan toleran bagi umat Islam.

Potensi, peran, dan fungsi yang dimiliki masjid ini dapat dijadikan kekuatan untuk menetralisasi paham keagamaan yang bernuansa teroristik.

Dengan demikian, diharapkan kehadiran Fahmi Tamami bisa menangkal benih-benih radikalisme agama tidak tumbuh subur secara bebas di Indonesia.

Semoga. Aamin.

Wallahu a’lam.

Tujuan di bentuknya Fahmi Tamami melindungi Masjid dan mushola dari intervensi dan pengambil alihan oleh sekelompok umat Islam yang bertujuan merubah pola peribadatan umat Islam Indonesia, yang sudah menjadi kebiasaan yang positif dalam hal keagamaan dan kemasyarakatan secara turun temurun.

Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid dan Mushola Indonesia ( FAHMI TAMAMI) yang diketuai oleh KH Rhoma Irama akan melantik kepengurusan Majelis Pimpinan Wilayah ( MPW) Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid dan Mushola Indonesia ( FAHMI TAMAMI) DKI Jakarta yang di ketuai oleh KH Agus Darmawan.

Baca juga :   DPP LDII Gelar FGD Bahas Ketahanan Pangan dan Pertanian

Setelah pelantikan akan ada Seminar yang bertema “Mafaahim wajib an Tushoohah, Paham-paham yang perlu diluruskan mengenai radikalisme, terorisme, dan liberalisme, dengan keynote speaker Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan menghadirkan nara sumber KH. Rhoma Irama selaku Ketua Fahmi Tamami, H. Yusuf Kalla selaku Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Dr. H. Saefullah M Pd selaku Ketua PWNU DKI Jakarta/Sekda DKI.

Dengan moderator Dr. Firdaus Turmudzi, M.Hum Sekjen Fahmi Tamami DKI Jakarta dan mahasiswa program doktor jurusan Dakwah.

Kegiatan dilanjut dengan materi Mukerwil dengan para pembicara:

1. K.H. Anas Kurdi, M.A dengan tema “FT, sekarang dan masa depan”.

2. K.H. Dr. Lutfi Fathullah, “Urgensi zakat, untuk para ta’mir masjid dan musholla”.

3. Ir. Eka Permana, M.A, “Managemant masjid berbazis teknologi”.

Pelantikan dan Mukerwil ini mengambil tema “Merajut Bingkai yang terkoyak, Fahmi Tamami Kuat, Indonesia Bermartabat”.

Insya Allah pelaksanaan kegiatan ini akan diadakan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, pada tanggal 13-14 Jumadil Akhir 1441 H/ 8-9 Februari 2020.

KH Rhoma Irama selaku Ketua Umum Fahmi Tamami mengatakan Fahmi Tamami telah terbentuk di 19 provinsi. Insya Allah di tahun 2020 ini ditargetkan di 34 provinsi di Indonesia.

Kepanitiaan terus intensif untuk mensukseskan acara pelantikan dan Mukerwil ini, semoga kepengurusan Fahmi Tamami DKI Jakarta bisa bersinergis dengan Masjid dan Mushola se Indonesia serta menjalin kerjasama juga dengan pemerintahan kata Dr. Firdaus Turmudzi, M.Hum selaku sekretaris MPW DKI Jakarta Fahmi Tamami. (Redaksi/Esa)




Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan