Fenomena Muslims Stateless

Diposkan oleh
Prof. Nasaruddin UmarProf. Nasaruddin Umar
Share yuk!

Banyak istilah muncul untuk menggambarkaperkembangan dunia Islam dalam decade terakhir. John L. Esposito dalam The Future of Islam, mengungkapkan kenyataan ini dengan mengatakan bahwa “Today, Islam is among the fastest-growing religions in Afrika, Asia, and America”. (Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika). Hal yang sama juga sering diungkapkan Hillary Clinton dalam berbagai kesempatan ceramahnya di depan komunitas muslim. Pola migrasi umat Islam dalam dua decade terakhir menarik untuk dicermati. Eksodus umat Islam besar-besaran ke negara-negara non-muslim menimbulkan kerumitan ketatanegaraan tersendiri.

Oliver Roy melihat adanya fenomena “State without nation and Brothers eithout state”, yaitu adanya semacam negara tanpa bangsa dan persaudaraan tanpa negara”. Mungkin juga bisa dikatakan, adanya fenomena kebangsaan tanpa negara (nations without state), karena dalam kenyataannya komunitas muslim yang eksodus ke negara-negara non-muslim dengan berbagai alasan dan kepentingan, memang meniciptakan melting pot tersendiri di dalam negara tujuan.

Gerakan eksodus umat Islam secara besar-besaran dalam dua dekade terakhir ke negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia Selatan, disebabkan oleh beberapa krisis di negeri asalnya. Ada dalam bentuk krisi plitik seperti penduduk Palestina yang tadinya memiliki 80% tanah hunian di kawasan Yerusalem dan selebihnya Israel menghuni sekitar 20 %, tetapi kini terbalik, penduduk Palestina hanya mendiami wilayahnya sekitar 20%, selebihnya diambil alih Islrael. Akhirnya mereka terpaksa eksodus bersama keluarganya ke Eropa, AS, dan Australia. Iraq, Libanon, dan Iran yang pernah dilanda perang saudara berkepanjangan memaksa warganya untuk mencari wilayah aman ke negara-negara barat seperti AS, Kanada, Eropa, Ausralia, dan disejumlah negara-negara Scandinafia.

Baca juga :   Dekrit Presiden 5 Juli 1959

Pola migran lainnya bekas negara-negara jajahan negara maju pergi mengadu nasib ke negara-negara bekas penjajahnya, seperti warga muslin di kawasan Afrika seperti Marocco, Tunisia, Aljazair, Mesir, melakukan eksodus ke Perancis. Demikian pula Negara-negara muslim lainnya yang pernah dijajah oleh Inggeris karena tekanan ekonomi maka mereka berbondong-bondong memasuki Inggeris. Belum lagi mereka yang lari dan mencari suaka politik karena kekisruhan politik di negerinya. Yang lainnya semula melanjutkan studi di Negara-negara maju tersebut tetapi mereka tidak mau lagi kembali ke negerinya karena mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di negeri tempat studinya.

Indonesia sendiri dikenal sebagai salahsatu negara yang penduduknya ada di berbegai negera maju. Di Rusia, Belanda, Yugoslavia, Saudi Arabia, dan Malaisia banyak sekali warga Indonesia yang tinggal beranak cucu di sana dengan memanfaatkan kedekatan historis antara Indonesia dengan negara-negara tersebut. Bahkan sudah kawim mawin dengan warga Negara setempat. Meskipun demikian rasa keindonesiaan dan Islam yang berkeindonesiaan masih tetap dipertahankan di negara-negara barunya..

Fenomena terakhir para migran Indonesia kembali membanjiri AS dengan memanfaatkan kelonggaran peraturan AS yang memudahkan tenaga kerja professional masuk ke AS, karena kaum industriawan AS yang saat ini mengalami kelesuan usaha mereka, lebih senang mempekerjakan para pekerja asing, khususnya dari Indonesia, yang mau digaji separoh dari karyawan warga AS dengan mutu kerja yang tidak kalah dengan mereka. Para pekerja asal Indonesia juga merasa senang karena walapun dibayar separoh dari gaji warga AS tetapi masih jauh lebih baik daripada gaji yang diterimanya di tempat lain, termasuk di Indonesia sendiri.

Fenomena lain ialah munculnya kewarganegaraan ganda kalangan umat Islam melalui proses kawin-mawin, job displacement, dan refugee, serta international recruitment menyebabkan munculnya kerancual kewarganegaraan ganda. Meskipun Indonesia belum menganut system kewarganegaraan ganda tetapi tidak sedikit jumlah warga Indonesia yang memiliki paspor ganda. Bukan hanya dilakukan oleh kelompok jaringan teroris dan kelompok radikal tetapi juga melalui perkawinan lintas negara yang memberikan kemungkinan lebih memudah menjadi warga negara setepat. Implikasinya lebih jauh umat Islam dan dunia Islam semakin menggelobal. Kita boleh saja membubarkan kelompok Hizbut Tahrir dengan alasan falsafah kenegaraannya tidak sejalan dengan NKRI. Namun kelompok Hizbut Tahrir yang mengusung konsep khilafah semakin meluas ke mana-mana, bahkan sering dihubungkan dengan istilah borderless, atau waga negara tampa batas negara. (Nasaruddin Umar)

Baca juga :   Mencegah Penipuan Umroh
 Tags: , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan