Ahl Al-Kitab

Diposkan oleh
Dr_Mohammad Nasih
Share yuk!

Oleh Dr. Mohammad Nasih*

Sebutan ahl al-kitâb atau lebih mudah dieja dengan ahli kitab dalam al-Qur’an menurut mayoritas para ahli tafsir klasik menunjuk kepada para penganut agama Yahudi dan Nashrani. Arti literalnya adalah “yang memiliki kitab”. Kitab berarti “(kumpulan) ketetapan”. Sebutan itu digunakan untuk menunjuk mereka, karena Allah telah memberikan ketetapan-ketetapan (al-kitâb) yang disampaikan melalui Nabi Musa dalam Taurat dan Isa dalam Injil. Ketetapan itu kemudian dikompilasi, sehingga tersusun sebagai sebuah buku. Ketetapan-ketetapan itu harus mereka percayai sebagai kebenaran mutlak, dan di antaranya yang berupa perintah harus mereka laksanakan, baik senang maupun tidak senang, suka rela atau terpaksa.

Di antara pemikir muslim, terutama kontemporer dan berpaham pluralisme agama, berpandangan bahwa sebutan ahl al-kitâb dalam al-Qur’an adalah penghalusan dan menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya bukanlah orang kafir. Pendapat ini tentu sangat lemah, karena jelas-jelas al-Qur’an di banyak ayat menyatakan secara tegas bahwa banyak di antara mereka tidak mau mengikuti Nabi Muhammad. Dan walaupun bertahan dalam agama yang dibenarkan eksistensinya oleh al-Qur’an, maka mereka adalah orang kafir sejati (al-Nisa’: 151)

Sesungguhnya sebutan itu adalah juga sindiran yang halus, tetapi sangat keras. Sebab, sebagai ahl al-kitâb, tidak selayaknya mereka membangkang terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Di antara ketentuan itu adalah Muhammad merupakan utusan Allah yang terakhir. Padahal nama Muhammad telah secara tegas disebutkan di dalam kitab Taurat dan Injil.Karena itulah, sebutan ahl al-kitâbtidak lagi digunakan untuk menyapa mantan penganut Yahudi dan Kristen yang kemudian menjadi pengikut Nabi Muhammad, walaupun mereka telah diberikan ketetapan yang juga harus dilaksanakan dalam kehidupan keseharian mereka. Sebab, para pengikut Nabi Muhammad telah menjalankan perintah Allah. Dua orang yang paling awal percaya kepada kerasulan Muhammad saw., Khadijah dan Abu Bakar, mendapatkan informasi tentang kerasulannya dari para pendeta yang membaca kitab. Karena itulah iman mereka kepada Nabi Muhammad saw. sangat kokoh melebihi karang. Dan yang beriman kepada kerasulan Muhammad disapa dengan “orang-orang yang beriman”.

Baca juga :   Delapan Kesalahan Umum Startup dalam Interaksi dengan Media

Di dalam kitab-kitab sebelumnya, telah diinformasikan tentang akan adanya seorang nabi dan rasul terakhir bernama Muhammad. Bahkan ciri-ciri fisik dan non fisiknya telah diinformasikan. Al-Qur’an bahkan menyatakan bahwa ahl al-kitâb telah sangat mengenali Nabi Muhammad sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Bahkan, orang-orang Yahudi berharap bahwa Nabi yang terakhir itu akan menjadi pembela mereka. Orang-orang Yahudi, sebelum deklarasi Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, selalu mengharapkan kedatangan rasul yang terakhir sebagai pemimpin untuk meraih kemenangan mereka. Setiap terjadi pertengkaran antara orang atau kelompok Yahudi dengan pihak lain, dan pihak Yahudi terdesak, mereka selalu mengancam bahwa mereka akan membalas sampai kalah apabila rasul yang terakhir itu datang. Karena itu, orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab Allah, mestinya beriman kepadanya.

Karena itulah, al-Qur’an mengkritik keras para ahl al-kitâb, dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang melampaui batas. Disebut melampaui batas karena sudah ada ketetapan bahwa yang dijadikan  nabi dan rasul terakhir adalah Muhammad, tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Yahudi menolaknya karena harapan yang kuat bahwa rasul yang terakhir itu berasal dari garis keturunan Ya’qub bin Ishaq. Namun, ternyata rasul tersebut berasal dari garis keturunan Isma’il.

Al-Qur’an menyayangkan sikap ahl al-kitâb, karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah, padahal mereka menyaksikan dengan pasti bahwa semuanya itu adalah kebenaran (Ali Imran: 70). Bahkan sebagian besar ahl al-kitâb menginginkan agar kaum beriman berbalik kepada kekafiran, karena mereka iri dengki kepada mereka setelah mengetahui bahwa apa yang diyakini oleh orang-orang beriman adalah kebenaran yang sesungguhnya. Pengetahuan mereka tentang kebenaran itu sebelumnya justru membuat mereka menjadi anti kepada kebenaran hanya karena fanatisme sempit. Wallahu a’lam bi al-shawab.[]

*Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ; Guru Utama di Rumah Perkaderan & Tahfidh al-Qur’an MONASH INSTITUTE

Baca juga :   10 Tahun Tak Berdaya Ada Indikasi Menyandera UU Perfilman
 Tags: , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan