Arus Pragmatisme

Prof. Nasaruddin UmarProf. Nasaruddin Umar

Fenomena kid/adult jaman now diwarnai dengan merasuknya faham paragmatisme yang sedemikian dalam di dalam masyarakat. Pragmatisme sebuah aliran filsafat yang beranggapan bahwa nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan kewajaran kebenaran di dalam hidup ialah seberapa besar sesuatu itu memberi manfaat dan kegunaan di dalam diri, keluarga, atau kelompok. Dengan kata lain, segala sesuatu itu ditentukan oleh nilai kemanfaatan secara praktis di dama mempermudah orang untuk menjalani kehidupannya. Dengan demikian, sytandar nilai menjadi sangat subyektif. Nilai-nilai dasar universal dan dan fundamental, seperti yang ditemukan di dalam agama menjadi terpenggirkan, karena segalanya diukur berdasarkan kepentingan subyektif. Nilai untung rugi secara material betul-betul sudah cenderung menjadi pertimbangan tunggal.

Disadari atau tidak, ada kecenderungan kuat di dalam masyarakat kita mulai terkontaminasi pandangan hidup seperti ini. Asas kegunaan dan manfaat dalam kehidupan praktis ini seolah mengubah pandangan hidup di dalam masyarakat. Para tokoh agama dan para ilmuan merasa terpaksa harus mengevaluasi dan mereinterpretasi pemahaman dalil-dalil agamayang selama ini dipegang di dalam masyarakat. Bukan hanya terhadap nilai-nilai budaya yang profan, tetapi nilai-nilai agama yang sakral pun ikut tergerus dengan arus perkembangan faham pragmatisme ini. Paham ini seolah menjadi sebuah agama baru di dalam masyarakat saat ini.

Patut direnungkan, apa jadinya masyarakat bangsa dan umat beragama, khususnya umat Islma, jika pandangan hidup pragmatisme ini terus menggejala di dalam masyarakat? Bagaimana kita sebagai umat dan warga bangsa harus bersikap dan apa yang harus dilakukkan guna mengantisipasi fenomena social uamh menggelonbal sedemikian pesat ini?

Dampak buruk pragmatisme pertama kali dirasakan di dalam urusan keluarga dan rumah tangga. Atas dasar pandangan pragmatism, seorang anak tidak perlu direpotkanuntuk mengurus orang tuanya yang sudah jumpo. Cukup serahkan saja ke Panti-panti Jumpo mengurusnya. Nanti dibayar perbulan atau per triwulan atau persemester. Orang tua tidak perlu lagi merepotkan dan menjadi beban. Cukup mengiukuti paket pemeliharaan dan perawatan seperti apa yang diinginkan semuanya difasilitasi. Mulai dari paket biasa sampai kepada paket VVIP. Demikian pula terhadap anak-anak yang disable (cacat) cukup orang tua memilihkan paket mana yang akan dibeli, pihak yayasan akan menyesuaikandiri secara professional. Tradisi panti jumpo sesungguhnya tidak pernah dikenal di dalam tradisi bangsa kita yang menjunjung tinggi keluhuran dan martabat orang tua.

Baca juga :   Belajar dari Korea

Jika kita mau mendengarkan bisikan hati kecil orang tua yang sudah jumpo, tentu salahsatu jeritannya ialah yang kami butuhkan bukan hanya perawatan tetapi kami juga butuh untuk mencintai anak dan para cucu. Hidup terasing di dalam “sangkar emas” merupakan penderitaan tersendiri bagi siapapun. Demikian pula anak-anak disable, yang dibutuhkan bukan hanya pengurusan dan pelayanan dari suster tetap mereka juga mendambakan kehangatan pelukan orang tua kandungnya. Mereka ingin bercanda dengan saudara-saudaranya seperti anak-anak lain. Bukan untuk diisolasi dan digabungkan dengan para anak-anak cacat lain. Faham pragmatism betul-betul sangat kejam. Orang tua yang pernah dengan susah payah melahirkan, merawat, menyekolahkan, dan terus mendoakan anak-anaknya, setelah mereka berhasil dan dirinya sudah jumpo, terpaksa harus “diusir” secara halus oleh anak-anaknya. Nanti hari-hari minggu, sisa-sisa waktu di long weekend baru sesekali ditengok. Itupun sekejap karena keterbatasan ruang tamu di rumah jumpo. Sang anak disable seolah tidak lagi mengenal orang tuanya. Mereka lebih rindu kepada susternya ketimbang orang tuanya sendiri. Orang tua dan anaknya saja diperlakukan seperti itu, apalagi orang lain? Kita harus merenungkan sedalam-dalamnya seperti apa wujud bangsa ini di masa depan jika persoalan pragmatisme terus berlanjut? (Nasaruddin Umar)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan