Pemimpin

Diposkan oleh
Dr. Alfan Alfian, MSiDr. Alfan Alfian, MSi
Share yuk!

Tiap saat kita dihadapkan pada kisah-kisah atau kasus-kasus pemimpin dan kepemimpinan. Tak hanya di politik ia juga terjadi dalam banyak hal. Kalau kita baca media massa hari-hari ini, kita bisa membaca soal jatuhnya Najib Razak dan penanganan kasus hukumnya di Malaysia, terpilihnya Andres Manuel Lopez Obrador sebagai Presiden Meksiko, mundurnya Menteri Luar Negeri Inggris Boris dan menteri yang bertanggung jawab atas perundingan Brexit, David Davis.

Juga melenggangnya Recep Tayyip Erdogan yang memenangi pilpres Turki. Pun pertemuan antara Donald Trump dan Kim Jong-Un di Singapura. Juga munculnya nama Alexandria Ocasio-Cortez. Dia menggegerkan dunia politik Amerika Serikat setelah tanpa disangka mengalahkan seorang politikus kawakan sebagai jalan menuju kursi Kongres. Yang dikalahkannya, Joseph Crowley, sesama nomine Partai Demokrat dari New York. Politikus itu petahana selama 19 tahun dan 14 tahun tidak mendapatkan lawan untuk merebut kursi Kongres. New York Times menyebut, sebelum kemenangan itu tidak ada satu pun media arus utama (mainstream) di AS yang menyebut siapa itu Alexandria Ocasio-Cortez.

Di Indonesia, kita baru saja menjalankan pilkada serentak. Tentu ada kisah-kisah tentang pemimpin dan kepemimpinan. Apakah itu terkait kemenangan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur, Ridwan Kamil di Jawa Barat, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Edi Rahmayadi di Sumatera Utara dan sebagainya. Juga tokoh-tokoh yang kebetulan tak terpilih, termasuk dalam kasus tertentu yang cukup menghebohkan ialah kemenangan kotak kosong. Bagaimana yang terpilih itu memimpin daerah masing-masing ke depan? Itulah pertanyaan akhir berbagai media, yang disertai harapan mereka bisa memimpin secara baik, tak jauh dari janji-janji kampanyenya.

Di Indonesia masalah pemimpin dan kepemimpinan kini juga tengah menyembul dari berbagai perbincangan pergerakan konstelasi politik menuju pemilu serentak 2019. Proses pencalegan tengah berlangsung marak di partai-partai politik yang lolos pemilu. Proses penentuan calon wakil presiden pendamping Joko Widodo yang hendak maju kembali sebagai capres, juga marak, disertai misteri dan kemungkinan-kemungkinan. Juga siapa kira-kira penantang Jokowi? Kalau Prabowo berpasangan dengan siapakah dia? Apakah akan ada poros ketiga pula kelak? Hal-hal semacam itu menandakan bahwa hari-hari politik Indonesia kita tengah dibanjiri isu-isu kepemimpinan.

Baca juga :   Memahami Islam

Isu kepemimpinan, kalau kita baca media massa, sebagaimana dicatat di atas, tentu tak sekadar yang berurusan dengan ranah politik praktis. Proses penyelamatan tim sepakbola anak-anak beserta pelatihnya yang terjebak di suatu gua di Thailand Utara, juga peristiwa kepemimpinan, pun kepahlawanan. Mereka bertahan 18 hari terperangkap di gua yang terendam banjir, sebelum akhirnya keseluruhan 13 orang berhasil dikeluarkan dengan
selamat.

Operasi penyelamatan dramatis tersebut sebelumnya, sebelumnya sempat disebut yang memimpin operasi Narongsak Osatanakor, sebagai “Misi Mustahil” alias “Mission Impossible”. Melibatkan berbagai stake holders operasi ini juga mencatatkan nama Ricard Harris sebagai penyelam terakhir yang mampu membawa keluar mereka yang terjebak.

Operasi sulit ini, bahkan sebelumnya telah menewaskan seorang penyelam penyuplai oksigen Saman Gunan, yang juga prajurit Angkatan Laut Thailand. Kita bisa mengambil hikmah dari kisah-kisah pemimpin dan kepemimpinan itu sesuai konteks masing-masing. Dunia diisi oleh kisah-kisah pemimpin dan kepemimpinan, semua berproses, semua meninggalkan pesan masing-masing. (M Alfan Alfian, Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta)

 Tags: , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan