Para Presiden Kita (1)

Diposkan oleh
K.H. Salahuddin Wahid
Share yuk!

Beberapa bulan lalu saya membaca hasil survei tentang presiden terbaik RI menurut pandangan masyarakat. Pertama adalah Soeharto (sekitar 32 persen), kedua adalah Soekarno (sekitar 23 persen), ketiga adalah Jokowi (sekitar 17 persen), keempat adalah SBY (sekitar 11 persen), selanjutnya adalah BJ Habibie, Gus Dur dan Megawati. Terlihat bahwa presiden terbaik di mata rakyat adalah presiden yang paling lama menjabat, yang kedua juga paling lama kedua.

Saya menilai bahwa presiden terbaik RI adalah Bung Karno, presiden pertama kita dan proklamator kemerdekaan. Mengapa saya memilih Bung Karno sebagai presiden terbaik? Bung Karno adalah presiden yang menjadi pemimpin saat kita berjuang untuk merebut kemerdekaan.

Bung Karno adalah pemimpin yang mampu mengobarkan semangat rakyat melalui pidato-pidato beliau yang amat memikat. Pidato-pidato itu memberi pendidikan kepada rakyat. Bung Karno juga mendidik rakyat melalui begitu banyak tulisan sejak beliau masih muda.

Bung Karno adalah pemimpin visioner. Beberapa contoh bisa dikemukakan di sini. Pertama, gagasan awal dasar negara kita, Pancasila, adalah hasil pemikiran BK. Kedua, visi tentang “nation and character building” yang sering disampaikan dalam pidato. Dan kini kita saksikan bahwa karakter dan rasa kebangsaan rakyat dan juga para pemimpin menurun dibanding beberapa puluh tahun lalu. Kita dikenal sebagai bangsa lembek dan kurang punya karakter. Sulit untuk menemukan pemimpin yang punya etika dan sikap kenegarawanan.

Ketiga, visi BK yang sering mengingatkan kita supaya jangan menjadi bangsa kuli dan kulinya bangsa-bangsa. Kini kita menyaksikan fakta tentang jutaan pekerja Indonesia yang merantau untuk menjadi buruh di banyak negara dan mengalami perlakuan tidak manusiawi di Timur Tengah dan Malaysia. Mereka terpaksa menjadi pekerja kasar dengan menerima risiko di atas karena di tanah air tidak tersedia cukup pekerjaan.

Baca juga :   Jabatan Presiden RI 3 Periode?

Keempat, visi BK tentang nekolim (neo-kolonialisme). BK menolak modal asing masuk ke Indonesia, karena saat itu kita belum menguasai teknologi dan modal uang serta pengalaman kita masih minim. Kini banyak dari kita yang mengeluhkan bahwa kita tidak berdaulat dalam bidang ekonomi. Banyak yang menyatakan bahwa sistem ekonomi kita saat ini bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945.

Tentu tidak semua visi dan kebijakan BK kita pahami dan kita setujui. BK tidak pernah bicara tentang KB (keluarga berencana). Kalau kita tidak menjalankan program KB dengan ketat pada masa Orde Baru, maka kini jumlah penduduk Indonesia bisa mendekati angka 400 juta. Bayangkan seperti apa beban yang harus pikul untuk menyediakan bahan makanan dan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Tidak seluruh rakyat Indonesia mendukung kebijakan BK untuk melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Bahkan sejumlah perwira tinggi dan menengah TNI dikabarkan tidak sepenuhnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai anggota TNI dalam menjalankan tugasnya, karena tidak setuju dengan kebijakan tersebut.

Sebagai pemimpin visioner, punya pengetahuan yang amat luas dan kemampuan bicara serta kemampuan menulis yang amat baik, BK adalah kepala negara yang hebat. Tetapi BK tidak begitu baik sebagai kepala pemerintah. BK memahami betul kondisi itu, sehingga BK mengangkat ir Juanda sebagai semacam kepala pemerintah yang harus bertanggungjawab terhadap BK selaku kepala negara.

Gagasan Nasakom yang dijalankan BK pada akhir 1950-an jelas ditentang oleh banyak pihak. BK membubarkan DPR hasil pemilu 1955, dan kemudian membubarkan Partai Masyumi, PSI dan Partai Murba. Partai-partai itu dibubarkan karena menentang Nasakom dan amat kritis terhadap BK. Bahkan BK juga menangkap sejumlah tokoh yang sering melontarkan kritik keras, seperti Syahrir, Mohtar Lubis, Hamka, Mohamad Roem,

Baca juga :   Kebohongan dan Ketidakmampuan

Dan kita menyaksikan bahwa BK terpaksa lengser akibat tidak bersedia membubarkan PKI yang terlibat Gestapu. Terbitnya Supersemar mengakhiri masa jabatan BK sebagai Presiden. Masyarakat pendukung BK menganggap telah terjadi kudeta merangkak. Saya menilai bahwa sejak timbul kudeta Gestapu kepemimpinan BK sudah tidak efektif lagi. Kalau keadaan ini dibiarkan berlanjut, dampaknya amat buruk bagi Indonesia. Keadaan yang berlangsung sekitar 16  bulan itu harus diakhiri. (Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng)

 Tags: Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan