Al-Qur’an dan Pembunuhan Karakter

Diposkan oleh
Prof. Nasaruddin UmarProf. Nasaruddin Umar
Share yuk!

Al-Qur’an sangat mencela fitnah dan berbagai karakter semacamnya. Pembunuhan karakter melalui berbagai media berbanding lurus dengan mendekatnya pemilihan umum. Kita sulit membayangkan bagaimana Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar dan sering disanjung sebagai manusia yang sangat santun, tetapi setiap hari kita membaca viral pembunuhan karakter.

Kita sering mempertanyakan bagaimana posisi nilai-nilai agama dan adat  istiadat Indonesia yang dikenal sebagai negeri berpenduduk santun. Apakah sedang terjadi perubahan sosial begitu dahsyat di dalam masyarakat sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama nilai-nilai luhur agama dan budaya ditinggalkan atau ditenggelamkan oleh kepentingan fragmatis sesaat? Pembunuhan karakter masih akan terus menjadi pemandangan lumrah, bahkan mungkin di masa depan akan lebih berkembang lagi, baik kualitas maupun kuantitasnya, seiring perkembangan sains dan teknologi.

Tantangan kita sekarang adalah bagaimana menyiapkan umat masa depan umat yang bebas dari cara-cara picik dan pengecut lain seperti membunuh karakter seseorang. Membunuh secara biologis langsung dapat hukuman tetapi membunuh karakter bisa terbebas dari hukuman fisik, meskipun dosanya di mata Tuhan sama-sama berat. Dalam Al-Qyr’an dijelaskan: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”. (Q.S.al-Maidah/5:32).

Ayat-ayat tersebut di atas menegaskan betapa dahsyatnya pembunuhan, sehingga digambarkan membunuh seorang anak manusia sama dengan membunuh semua manusia. Namun ternyata masih ada yang lebih dahsyat lagi, yaitu fitnah.

Memfitnah orang digambarkan lebih keji dari pada pembunuhan. Ini bisa dimaklumi jika membunuh seseorang secara fisik hanya sekali menderita, itupun hanya sesaat. Namun jika memfitnah seseorang bisa menyebabkan seseorang mati berkali-kali dan seluruh keluarga dan anggota komunitas yang difitnnah seperti anak, isteri atau suami, dan orang tua yang difitnah ikut juga “terbunuh”. Kisah percobaan pembunuhan yang pernah dilakukan terhadap Nabi Yusuf, seorang anak bungsu dari tujuh bersaudara, menjadi pelajaran penting bagi kita.

Baca juga :   Politik Kita yang Cair

Sebagai anak bungsu wajar kalau mendapatkan cinta khusus dari orang tua. Namun perlakuan seperti itu tidak diterima saudara-saudaranya. Akhirnya muncul niat jahat dari saudaranya yang diprakarsai oleh kakak sulungnya bernama Bunyamin.

Berbagai cara digunakan untuk meraih cinta ayahnya, termasukupaya membunuh karakter adiknya, namun cinta sang ayah terhadap Yusuf tetap tak terpatahkan. Akhirnya akal bulus dirancang untuk membunuh secara fisik adiknya. Mereka meminta izin kepada ayahnya untuk mengajak Yusuf bermain, dan di satu tempat ia menceburkan adiknya ke dasar telaga dalam.

Untuk mengelabui ayahnya ia mengolesi darah kambing pakaian adiknya yang sebelumnya sudah dicabik-cabik. Mereka menyampaikan penyesalan mendalam karena tidak mampu mempertahankan adiknya dari terkaman srigala buas.

Saudara-saudara nabi Yusuftidak pernah membayangkan sebuah sandiwara kehidupan di atas panggung bumi Tuhan, bahwaadik mereka, Yusuf menjadi raja tenar  dan adil di Mesir. Mereka tidak pernah menyangka jikayang akan menjadi dewa penolongnya di kemudian hari ialah adik paling dibencinya. Jika saudara-saudaranya pernah berusaha membunuh karakter adiknya maka sang adik berusaha untuk menghidupkan kembali karakter kakak-kakaknya.

Kita tidak cukup hanya mencontoh nabi Yusuf tetapi kita juga harus mampu membunuh potensi karakter saudara-saudara Yusuf di dalam diri kita. Yusuf dan saudara-saudaranya adalah simbol dari dua karakter yang saling mengintai satu sama lain. Yusuf dilambangkan sebagai pemuda tampan, berbudi pekerti luhur, dan jujur, dan penuh kasih sayang. Sedangkan saudara-saudara Yusuf merupakan jumlah yang lebih besar, memiliki karakter pembunuh, dan kering dengan rasa kasih sayang.

Kisah ini mengajak kita untuk mencontoh Nabi Yusuf dan menjauhi saudara-saudaranya. Jauhi pembunuhan karakter orang lain jika tidak ingin karakternya dibunuh orang lain, dan kita tidak boleh melupakan penegasan ayat: “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya)  daripada membunuh”. (Q.S. al-Baqarah/217)

Baca juga :   Refleksi Politik dan Moral
 Tags: , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan