Pesona Garut Intan Carnival 2019 Digelar

Salah satu peserta Carnaval Costum unjuk kostum.
Share yuk!

Garut, HarianPelita.co – Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menggelar “Pesona Garut Intan Carnival”, Sabtu (19/10/2019) sebagai pendamping Gebyar Pesona Budaya Garut dalam event 100 Calender of Event dari Kementrian Pariwisata RI.

Dalam “Pesona Garut Intan Carnival”, selain kegiatan karnaval kostum itu sendiri, juga disajikan Defile Uniform Batik yang biasa diikuti oleh instansi atau lembaga karena minimal peserta berjumlah 10 orang. Digelar juga kegiatan penguat lainnya yakni lomba fotografi (hobi maupun profesional) untuk mengangkat dan memviralkan kegiatan pada saat pelaksanaannya, serta dimeriahkan pula dengan bazzar aneka produk kreatif berupa fashion, kuliner maupun kepariwisataan.

Menurut Kepala Diparbud Kabupaten Garut, Budi Gangan, kegiatan “Pesona Garut Intan Carnival” ini terinspirasi oleh Jember Fashion Carnival (JFC). Namun semenjak awal yang diharapkan menjadi pembeda dari kegiatan ini. adalah dalam Pesona Garut Intan Carnival diperebutkan Piala Bergilir Gubernur Jawa Barat untuk kelompok ataupun penilaian tertinggi dari juri yang merupakan akademisi, designer, pengamat mode, dan aparatur pemerintahan.

Budi menandaskan, ada beberapa hal dalam kegiatan ini yang mengutamakan bahan dari potensi lokal, misalnya potensi akar wangi dan sutra (Garut), mendong dan bordel (Tasikmalaya), serta bambu (Ciamis). Pihaknya juga memfasilitasi bahan-bahan dari daur ulang, seperti tas keresek, kemasan bekas makanan/minuman instan, limbah serutan kayu.

Event ini juga senantiasa menonjolkan batik, baik sebagai kain batik (cap atau tulis) maupun sebagai motif. Setidaknya 40% dari keseluruhan bahan sebagai upaya memperingati dan melestarikan kain batik yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

“Tema kegiatan hanya sebagai panduan bagi peserta dalam merancang dan membuat kostum karnaval tanpa memberikan atau mengarahkan secara lebih teknis kepada para peserta, sehingga unsur kreatifitas personal lebih menonjol dalam kegiatan ini,” katanya, Jum’at (18/10/2019).

Baca juga :   Hujan Deras, Akses Jalan Empat Desa ke Subang Kota Lumpuh Karena Longsor

Sedangkan untuk tema kegiatan, dirinya memperkenalkan Dancing Peacock (Merak Ngibing) sebagai motif batik khas Jawa Barat. Hal itu dimaksudkan bahwa burung merak ini konon merupakan hewan dari surga yang diturunkan berbarengan dengan Nabi Adam AS. Di sisi lain, Parahyangan (termasuk Kabupaten.Garut di dalamnya) adalah daerah/kawasan “yang diciptakan Tuhan tatkala tersenyum” karena itulah keindahan alam beserta isinya tak terkalahkan daerah lain, beserta kelengkapannya.

Sementara untuk kelompok kostum, nantinya terbagi menjadi tiga kelompok dengan bahan yang juga terdiri dari 3 macam/kelompok; 1) Batik (40%) selebihnya bahan bebas; 2) Batik (40%) selebihnya bahan potensi unggulan lokal (akar wangi, mendong, bambu, sutra, bordel), serta 3) Batik (40%) selebihnya terbuat dari bahan daur ulang.

Dirinya menuturkan pihak panitia tidak merekomendasikan (dengan kata lain) tidak memperkenankan menggunakan bahan yang mudah layu (tanaman, buah-buahan, dedaunan, dsb), serta tidak memperkenankan penggunaan bunga/tanaman sintetis/plastik yang sudah jadi. “Di sini unsur kreasi dan hand-made lebih diutamakan,” ujarnya.

Sedangkan run-way yang digunakan sebagai catwalk, seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya yakni dimulai dari daerah persiapan di Jl.Bank –Start dari depan Makodim – berbelok ke kiri arah Jl.A.Yani – menuju Jl.Ciledug – masuk ke Jl.Siliwangi hingga Jl.Dewi Sartika – dan masuk lagi ke arah kanan ke Jl. Ahmad Yani hingga Finish berakhir di Lapangan Basket Makodim 0611 Garut. (yoes)

 Tags: , , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan