Viral, Bubur Ayam Diaduk Vs Tidak Diaduk!

Jakarta, HarianPelita.co – Urusan makan bubur ayam, penganut aliran diaduk dan tidak diaduk memang tidak pernah bisa ditengahi. Sebuah warung bubur ayam mendadak viral karena membuat edukasi tentang hal ini lewat spanduk.

Warung bubur ayam tersebut menjadi buah bibir setelah foto spanduknya diunggah di media sosial beberapa waktu lalu. Tentu saja, komentar yang membanjiri didominasi saling serang antara kedua kubu.

Berikut isi spanduk perbandingan kedua aliran tersebut yang dianggap mengedukasi konsumen:

Bubur Ayam Diaduk

Kelebihan:

  1. Lebih mudah dicerna
  2. Lebih mudah sampai ke lambung
  3. Semua rasa tercampur sempurna

Kekurangan:

  1. Tidak estetik
  2. Mengurangi nafsu makan sebagian orang

Bubur Ayam Tidak Diaduk

Kelebihan:

  1. Terlihat dan terjaga tetap estetik
  2. Meningkatkan nafsu makan hingga 30%
  3. Menambah sugesti rasa enak

Kekurangan:

  1. Rasa tidak tercampur sempurna
  2. Lebih susah dicerna karena tidak lembut

Sementara itu dari hasil penelusuran ditemukan beberapa fakta unik terkait warung bubur ayam viral tersebut.

1. Namanya ‘Bubur Ayam Jakarta’ tapi lokasinya di Kudus

Meskipun memakai nama “Bubur Ayam Jakarta” ternyata warung bubur viral tersebut berlokasi di daerah Kudus, Jawa Tengah. Fakta ini dikonfirmasi sendiri oleh Bu Ninik, pemilik warung tersebut.

2. Baru buka satu tahun

Sementara itu Leonardo, anak pemilik warung bubur tersebut, mengatakan bahwa warung Bubur Ayam Jakarta yang dikelolanya baru genap berusia 1 tahun pada bulan Agustus nanti.

3. Awalnya hanya iseng

Soal spanduk ‘edukasi’ bubur ayam diaduk vs tidak diaduk, Leonardo mengaku hanya iseng untuk mengisi space kosong di salah satu sisi gerobaknya. Agar berbeda dari warung bubur ayam pada umumnya, ia membuat spanduk atau banner tentang plus minus dua aliran ‘mainstream’ makan bubur ayam: diaduk vs tidak diaduk.

Baca juga :   Wisata Kuliner Purwakarta Jadi Rujukan Kabupaten Dharmasraya Sumbar

4. Isi spanduk adalah hasil googling

Leonardo mengakui, isi spanduk itu bukan murni dari dirinya. Ia hanya menemukannya secara random saat searching di Google. Namun beberapa fakta yang tertulis di situ, ia konfirmasi lewat pengamatan langsung di warungnya. Misalnya bahwa makan bubur tidak diaduk bisa meningkatkan nafsu makan 30 persen. “Dari 10 orang, saya lihat yang tidak diaduk makannya lahap sekali,” katanya.

5. Mana yang lebih banyak penganutnya?

Setelah melakukan pengamatan, pelanggan di warung Leonardo ternyata lebih banyak yang makan bubur ayam dengan cara diaduk terlebih dahulu. “Kira-kira 60 persen diaduk, 40 persen tidak diaduk,” pungkasnya.

Jika Anda penggemar bubur ayam, aliran manakah yang Anda ikuti?

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

4 Responses

  1. Ponco Satiyo Dirojo10 Juli 2020 at 1:28 pmReply

    Gue suka yang diaduk. Maknyusss…

    • Ade Subang10 Juli 2020 at 7:35 pmReply

      Asal jangan perasaan kita aja yang diaduk..

  2. Hani Moon10 Juli 2020 at 3:41 pmReply

    klo sy pilih yg ngga diaduk, soalnya nambah nafsu makan…xixixi

  3. Ibu Tititn10 Juli 2020 at 3:47 pmReply

    Aya-aya wae

Tinggalkan Balasan