Cindy: Si Anak dari Pekerja Migran yang Tak Berpangku Tangan Membantu Teman

Diposkan oleh
Kegiatan Cindy -ca4329c1Kegiatan Cindy
Share yuk!

Kupang, HarianPelita.co – Kondisi ekonomi memaksa banyak orang tua menjadi pekerja migran dan terpaksa meninggalkan anak-anaknya. Anak-anak dari para pekerja migran (APM) ini harus menghadapi pengasuhan yang kurang layak dengan tidak utuhnya sosok orang tua. Tak hanya di dalam rumah, di lingkungan bermain dan di tengah masyarakat, mereka juga kerap distigma dan didiskriminasi. Webinar seri 5 Festival Inklusif 100% “Yang Belia Yang Ceria: Mengarusutamakan Pola Pengasuhan Bersama untuk Anak Pekerja Migran (APM)” mengupas tuntas permasalahan ini.

Cindy Purnama Fitri, Ketua Forum Anak Desa Pandanwangi Lombok Timur menceritakan kondisi di desanya. Cindy saat ini berumur 15 tahun dan menjadi salah satu dari banyaknya anak pekerja migran (APM) di Desa Pandanwangi. Berdasarkan pendataan, di desa mereka terdapat sebanyak 401 APM di tahun 2017. Jumlahnya bertambah pada tahun 2018 menjadi 425 anak.

Cindy menceritakan APM sering kali mendapatkan stigma negatif seperti mengalami perundungan dan ejekan. Selain itu, masih ada beberapa APM yang hidup tanpa identitas hukum, semisal tidak masuk di dalam Kartu Keluarga atau tidak memiliki Kartu Identitas Anak. Kondisi tersebut membuat mereka tidak mendapatkan bantuan sosial, seperti Kartu Indonesia Pintar ataupun Kartu Indonesia Sehat.

Cindy menambahkan bahwa APM juga kerap kali mengalami keterbatasan ruang bermain. Tak jarang mereka merasa minder, tertutup hingga menyendiri. Beberapa bahkan berhenti sekolah karena kehilangan motivasi dan dukungan. Tak lulus sekolah, mereka akhirnya  bekerja di sektor pertanian khususnya tembakau yang ada di desa mereka.

Selain itu, pernikahan di bawah umur juga rentan terjadi pada APM. “Kasih sayang yang kami dapatkan tidak sebanding dengan kasih sayang dari orang tua yang dekat dengan anaknya. Anak pekerja migran sering dimarahi karena hal sepele,” ujar Cindy. “Karena kurangnya kasih sayang yang didapatkan oleh anak pekerja migran, maka pelariannya adalah banyak yang melakukan pernikahan di usia anak. Hal itu karena keinginan mereka untuk mendapatkan rasa ingin saling menyayangi dan memiliki,” imbuhnya.

Baca juga :   90 Desa dan Kelurahan di Kabupaten Garut Deklarasikan ODF

Dari berabgai masalah tersebut, Cindy tidak berdiam diri. Dengan dukungan dari Program Peduli melalui Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI), Cindy bersama Forum Anak Pandanwangi pun mulai bergerak. Mereka melakukan pendataan anak pekerja migran yang kemudian data tersebut digunakan untuk pemerintah desa. “Kami juga ikut terlibat dalam pelayanan langsung administrasi kependudukan di kantor desa dan sekarang banyak anak pekerja migran yang sudah memiliki identitas hukum,” ungkapnya.

Forum anak juga melakukan pendampingan dan perubahan juga mulai nampak, misalnya anak yang sempat putus sekolah, kini sudah mau bersekolah lagi. Mereka juga terlibat dalam pengasuhan anak-anak bersama di PAUD Al-Ikhlas. Hal yang paling signifikan adalah tercetusnya peraturan desa tentang perlindungan anak berkat advokasi dari forum anak. Dalam peraturan tersebut tercantum secara khusus mengenai perlindungan APM termasuk masalah pengasuhannya.

“Meski ada peraturan desa dan banyaknya sosialisasi, tapi kita menghadapi banyak tantangan seperti kurangnya kepedulian dan pemahaman masyarakat tentang hak dan perlindungan anak. Ini menyebabkan kami kesulitan untuk memaksimalkan kegiatan selain permasalahan keterbatasan prasarana dan prasarana untuk berkegiatan,” ucap Cindy.

Cindy menegaskan bersama forum anak ia akan terus mendorong pemerintah desa untuk meningkatkan kebijakan dalam pemberdayaan bagi anak pekerja migran, termasuk menjalankan fungsinya sebagai pelopor dan pelapor di tingkat anak-anak. “Meski kami mendapatkan banyak kendala dan tantangan tapi kami tidak berhenti dan itu bukan jadi penghambat kami dalam berkegiatan. Harapan saya, agar semua pihak termasuk lembaga swadaya masyarakat, pemerintah dan juga orang-orang dewasa agar lebih memperhatikan kami anak pekerja migran,” tutupnya.

Cindy adalah contoh remaja yang berdaya meski memiliki latar belakang sebagai anak dari pekerja migran. Dahulu mungkin Cindy adalah sosok yang pemalu karena stigma dan berbagai diskriminasi yang ia harus hadapi. Namun Cindy yang sekarang adalah sosok yang jauh berbeda. Semua itu dapat terjadi jika masyarakat sekitar bersama-sama berperan sebagai pengasuh dan pelindung serta ketika anak memiliki ruang aman sehingga dapat bertumbuh kembang dengan pengasuhan yang layak meski tanpa kehadiran fisik sosok orang tua. Saatnya kita lihat lingkungan sekitar dan temukan potensi anak-anak seperti Cindy lainnya sehingga mereka dapat berdaya, meraih potensi dan asanya. (rls)

Baca juga :   Pemkab Cianjur Tangkal LGBT Melalui Khutbah Jum’at
 Tags: , Reply

Tidak ada respon

Tinggalkan Balasan